Bermain musik merupakan keterampilan yang tidak semua orang bisa melakukannya, tetapi melalui latihan musik yang teratur memungkinkan seseorang dapat melakukannya dengan baik, tidak terkecuali insan yang memiliki beberapa keterbatasan fisik, melalui beberapa pendekatan cara berlatih yang disesuaikan mereka dapat berlatih dan bermain musik layaknya manusia normal.
Adalah The Mahatmiya Band, sebuah group band dari Panti Sosial Bina NetraMahatmiya Bali beranggotakan 6 personil penyandang cacat, yang tengah berjuang membuktikan jati diri dan kemampuan mereka dalam dunia musik band. Di bawah bimbingan instruktur Bp. Basuki, group yang diawaki oleh Sukariawan dan Sahidun Doni (vokal), Agus Juli (melodi), Dewa Ari Sanjaya (rhytim), Getmi (bas), Sukrawan (drumb) dan Arsana (keyboard) pada hari Sabtu lalu (20 Juni 2009) menampilkan permainan musik mereka pada ajang kompetisi band bergengsi di Bali “RRI Denpasar Band Competition 2009”.
Kompetisi band yang digelar mulai Bulan April 2009 dan akan berakhir pada Desember 2009 ini diikuti oleh 40 group band di bali, menggunakan sistem penilaian berdasarkan pooling SMS, dan setiap penampilan group band disiarkan secara on air oleh RRI Denpasar agar para pemirsa radio diseluruh tanah air dapat ikut berpartisispasi memberikan penilaian serta dukungan pada group band favourit mereka melalui dukungan SMS yang mereka kirimkan. Perolehan peringkat sementara The Mahatmiya Band berdasarkan pooling saat ini berada pada peringkat 5 dengan dukungan 3.96% dari total SMS yang masuk.
Personel The Mahatmiya Band yang semuanya penyandang cacat netra (kecuali Getmi penyandang cacat tubuh) mengungkapkan bahwa ini adalah penampilan mereka untuk kali pertama bermain diluar lingkungan PSBN Mahatmiya , namun demikian mereka tidak merasa nervous atau demam panggung saat menampilkan permainan musiknya bahkan mereka merasa bersemangat dan senang karena ajang ini merupakan satu jalan bagi mereka untuk membuktikan bahwa band penyandang cacat bisa setara dengan group band mereka yang personelnya normal , hal ini sejalan dengan semangat yang tertanam dalam diri setiap personelnya bahwa “ kecacatan bukan halangan untuk berprestasi”, berkostum kaus hitam bertuliskan The Mahatmiya Band yang mereka kenakan menambah intern dengan suasana sabtu sore itu
, group dengan nomor peserta 22 ini tampil dengan membawakan lagu-lagu aliran pop yang sedang in saat ini, mampu memukau dan mengajak bergoyang bersama kepada para penonton yang ada dihalaman panggung terbuka RRI Denpasar.
Menggali lebih dalam tentang cara mereka berlatih, menurut Getmi (bass) mereka berlatih dengan menggunakan bantuan audio, mereka dengarkan lagu-lagu yang akan dimainkan kemudian mencoba memainkan lagu tersebut satu persatu per alat musik, apabila masing masing personel dirasa telah menguasai lagu tersebut, maka kemudian mereka memainkannya bersama sebagai satu kesatuan lagu, pendekatan ini dilakukan karena pada saat ini belum ada partitur untuk pemain musik tuna netra.
Dalam kompetisi band ini setiap group band akan tampil 3 kali sesuai jadwal yang diatur panitia, dan peserta dibebaskan untuk mencari dukugan SMS sebanyak-banyaknya dari masyarakat luas, untuk mendukung The Mahatmiya Band,pengemar harus mengirim SMS dengan cara mengetik GELAR (Spasi) 22 KIRIM Ke 3477,
Partisipasi dari masyarakat dalam pooling ini kepada The Mahatmiya Band akan mencerminkan seberapa besar dukungan masyarakat terhadap eksistensi penyandang cacat dalam kehidupan sebenarnya. Mari kita dukung The Mahatmiya Band agar para personelnya dapat setara dengan masyarakat normal lainnya.
Ketik GELAR (Spasi) 22 KIRIM KE 3477, KALAU BUKAN KITA YANG MENDUKUNG, SIAPA LAGI ???
Kinerja petugas sosial dan pekerja sosial akan tergantung dari pengetahuan, wawasan, semangat dan penguasaan pemecahan masalah-masalah yang dialami oleh sasaran garapannya, selain juga tergantung pada fasilitas pelayan yang ada.
Faktor pengetahuan dan semangat sangat menentukan etos kerja pekerja sosial dalam memberikan pelayan kepada para penerima manfaat, untuk itu pengetahuan dan semangat harus selalu diasah dan dikembangkan agar pelayanan yang diberikan dapat dilakukan dengan lebih baik dan semakin meningkat dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan permasalahan sosial di masyarakat.
PSBN Mahatmiya merupakan Unit Pelaksana Teknis Departemen Sosial RI dalam melaksanakan tugas pelayanan dan rehabilitasi sosial penyandang cacat netra baik pelayanan di dalam dan diluar panti, Berdasarkan Keputusan Menteri Sosial RI No. 85/HUK/2007 tahun 2007 untuk melaksanakan uji coba pelayanan multi layanan tidak hanya memberikan pelayanan kepada penyandang cacat netra saja tetapi juga harus dapat memberikan pelayanan dan rehabilitasi kepada para penyandang cacat tubuh ringan, penyandang cacat mental ringan dan penyandang cacat rungu wicara yang berada diwilayah Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Namun permasalahan sosial tidak dapat dikelola dan ditangani oleh lembaga pemerintah saja, melainkan harus ditangani secara lintas sektoral dengan melibatkan semua unsur masyakat, pengusaha , dan LSM yang berkompeten dengan masalah sosial.
Pelayanan rehabilitasi sosial yang dilakukan oleh PSBN Mahatmiya, selain dilakukan didalam panti juga dilakukan diluar panti dengan sistem home care dan day care, juga dilakukan perluasan pelayanan pekerja sosial kepada panti-panti masyarakat dan pemerintah daerah dengan cara memberikan pelayanan pendampingan agar panti- panti tersebut dapat memberikan pelayanan sesuai dengan standar profesi pekerjaan sosial.
Atas dasar pemikiran seperti itu, maka pada Tanggal 19-20 Mei 2009 telah dilakukan Pemantapan Petugas Sosial dilingkungan PSBN Mahatmiya, bertujuan untuk memberikan tambahan pengetahuan, keterampilan dan wawasan bagi pekerja sosial di lingkungan PSBN Mahatmiya Bali agar dapat memberikan pendampingan profesi pekerja sosial profesional kepada panti milik masyarakat. Dalam kegiatan ini para peserta mendapatkan materi case management, interview dan recording yang disampaikan oleh nara sumber Dra. Uke Hani Rasalwati, M.Si, dan Drs. Aam Muharam, M.Si. dari STKS Bandung. Selain dibekali materi teori, para pesertapun diberikan kesempatan untuk melakukan praktek wawancara pekerja sosial profesional, untuk menggali dan mendalami permasalahan klien.
Kegiatan yang diikuti oleh 13 orang petugas sosial dilingkungan PSBN Mahatmiya ini diikuti dengan antusias oleh semua peserta karena ini merupakan bekal bagi pekerja sosial dalam memberikan Pelayanan pendampingan kepada panti sosial milik masyarakat dan pemerintah daerah diwilayah Kabupaten Tabanan dan kabupaten Badung.
Konferensi yang berlangsung tanggal 18-20 Maret 2009 bertempat di Sanur Paradise Plaza Hotel - Bali ini bertujuan mendiskusikan permasalahan eksploitasi komersil anak di kawasan wisata di Asia Tenggara. Para pesrta saling berbagi pengalaman dalam memerangi masalah pariwisata seks anak yang telah dikembangkan /dilaksanakan, serta menyususn mekanisme kerjasama dalam memerangi atau mengatasi masalah pariwisata seks anak di Asia Tenggara.
Konferensi yang diorganisisr PKPA dan ECPAT affiliate group in Indonesia dan didampingi secara teknis oleh ECPAT Internasional ini menghadirkan sedikitnya 25 pemvicara dari berbagai negara. Konferensi ini didukung oleh Pemerintah Indonesia ( Departemen Sosial, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Pemberdayaan Perempuan), Aus Aid Australian, THD Belanda, Plan Internasional, UNICEP Indonesia, CMC Netherland, The Japan Foundation, Majalah Foru Keadilan, Smart FM, Luxo Magazine, Restu Printing.
Konferensi tersebut dihadiri oleh 300 Peserta dari negara-negara Asia Tenggara dan Negara lainnya di Eropa, Amerika, Afrika dan Asia.
Disamping konferensi juga dilaksanakan pameran oleh lembaga-lembaga baik pemerintah maupun swasta, Non Government Organization (NGO) yang concern terhadap permasalahan anak termasuk Panti Sosial Bina Netra MahatmiyaTabanan Bali bersama Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial RI, juga berkesempatan mengisis salah satu stand pameran, yang bertujuan mensosialisasikan PSBN Mahatmiya Bali serta proses pelayanan dan rehabilitasi yang dilaksanakan baik dalam panti maupun di luar panti.
Program pendidikan di Panti Sosial Bina Netra Mahatmiya memberikan pelajaran teori dan praktek kerja bagi para penerima manfaat, pelajaran teori dan praktek dikelas yang diberikan selama kurun waktu tiga tahun memerlukan suatu praktek pengetrapan keterampilan tersebut pada kehidupan nyata di masyarakat, untuk itu penerima manfaat Panti Sosial Bina Netra Mahatmiya yang telah memehuhi syarat diharuskan melakukan Praktek kerja lapangan (PKL) dimasyarakat.
Pada Tanggal 19 januari 2009, telah diberangkatkan enam orang penerima manfaat Panti Sosial Bina Netra Mahatmiya untuk melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di wilayah Bali yaitu:
1. I Ketut Wisnuarta berpraktek di Mengwitani
2. I Ketut Widiana berpraktek di Singakerta Gianyar
3. I Made Sutame berpraktek di Desa Kukuh Kecamatan Marga
4. Ni Ketut Diasih berpraktek di Desa Sembung Kerambitan
5. Paidi berpraktek di Dalung Kuta Utara
6. Suriah berpraktek di Instalasi Produksi PSBN Mahatmiya Kediri Tabanan
Tujuan PKL ini adalah untuk mempraktekan teori maupun praktek pijat yang telah dipelajari di PSBN Mahatmiya, meliputi Sport Massage, Refleksi, Pijat Segmentasi, Refleksi Sotaiho dan Shiatsu. Selain itu kegiatan inipun ditujukan untuk memperkenalkan keterampilan yang dimiliki oleh para penerima manfaat PSBN Mahatmiya sehingga masyarakat dapat lebih mengenal potensi dan keterampilan para penyandang cacat binaan PSBN Mahatmiya, yang pada ahirnya diharapkan dapat menambah dukungan masyarakat terhadap para penyandang cacat.
Praktek Kerja Lapangan ini dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan sampai Tanggal 19 April 2009, para peserta PKL dibekali dengan peralatan memijat secara lengkap yaitu, satu set dipan pijat berikut seragam pijat dan minyak pelumas untuk pijat.
Penyandang cacat merupakan individu atau kelompok yang memiliki hambatan dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan dalam melakukan kegiatan hidup sehari-hari yang disebabkan oleh tidak berfungsinya sebagian anggota tubuh. Mereka yang memiliki keterbatasan ini harus mendapatkan latihan dan pendidikan yang khusus ditujukan untuk mereka, agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya agar bisa hidup mandiri.
Peringatan hari penyandang cacat 2008 di PSBN Mahatmiya Tabanan, dilakukan dengan mengadakan berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan mulai tanggal 11 Desember 08
Berupa kegiatan bhakti social penyandang cacat di Taman Makam Pahlawan Pancaka Tirta Tabanan,13 Desember melakukan apel bendera para penyandang cacat , diteruskan dengan lomba bakiak beregu,lomba news paper beregu, tanggal 15 Dsember 08 melaksanakankegiatan pengobatan Massal gratis, untukpengobatan mata, THT,kulit dan kelamin, serta penyakit umum serta kegiatan Donor darah dilaksakanan dengan kerja sama Rumah Sakit Indra, PPDI, dan Liliana Foundation. Serta 16-17 Desember 08 mengadakan pertandingan bola volley tuna netra.
Puncak peringatan Hari penyandang Cacat Internasional 2008 kali ini bertema “Pemenuhan hak dan martabat serta keadilan bagi penyandang cacat melalui ratifikasi konvensi internasional hak hak penyandang cacat”pelaksanaanya disatukan dengan Peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional pada tanggal 20 Desember 2008 dilakukan dengan melaksanakan Apel Bendera yang semua petugasnya adalah penyandang cacat. pelaksanaan kegiatan ini bertepatan dengan Peringatan Hari Ibu 2008. ini merupakan momentum yang sangat tepat mengingat peran ibu dalam membimbing dan mengasuh keluarga merupakan hal yang teramat penting untuk pengembangan potensi anak dalam keluarga termasuk apabila ada diantara anak atau anggota keluarganya mempunyai kecacatan, sehingga diharapkan bagi para ibu yang memiliki anak kurang beruntung diharapkan tetap memberikan kasih sayang dan perhatian serta tidak salah dalam mengembangkan potensi anaknya.
Kegiatan ini dilaksanakan juga dengan mengadakan kegiatan sosial yaitu:
Kegiatan Konsultasi keluarga, acara ini merupakan ajang silaturahmi antara PSBN Mahatmiya sebagai UPT DEPSOS yang menyelenggarakan rehabilitasi social bagi penyandang cacatdengankeluarga dan masyarakat penyandang cacat agar bisa lebih bisa memahami dan dapat mengembangkan sikap peduli dan dukungan yang lebih besar terhadappenyandang cacat.
Kegiatan pameran hasil karya penyandang cacat, pameran ini merupakan wahana eksibisi untuk memperlihatkan keterampilan para penyandang cacat kepada masyarakat, bahwa walaupun mereka memiliki keterbatasan tubuh tetapi mereka masih memiliki potensi yang bisa dikembangkan agar mereka bisa hidup mandiri, pameran ini merupakan bukti bahwa mereka mampu berkarya setelah mengikuti program rehabilitasi dan pendidikan di PSBN Mahatmiya.
Kegiatan Pasar Murah merupakan wujud kepedulian PBSN Mahatmiya kepada masyarakat yang kurang mampu, dalam kegiatan ini disediakan 215 paket sembako murah berisi 4 kg. beras, 5 bks mie instant, I kg Minyak goreng dan 1 kg gula pasir dengan harga Rp.20.000. per paket. Pasar murah ini menyasar masyarakat kurang mampu diwilayah Tabanan.
Kegiatan pada puncak peringatan Hari Penyandang Cacat dan Kesetiakawanan Sosial Nasional 2008. dimaksudkan untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa mereka mampu mengembangkan potensi yang mereka miliki serta untuk menggugah masyarakat agar peduli kepada para penyandang cacat dan potensi yang mereka miliki agar dapat memberikan dukungan para penyandang cacat sehingga mereka dapat hidup mandiri.
Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan para penyandang cacat diwilayah tabanan, keluarga dan masyarakat penyandang cacat, lembaga-lembaga pelayanan penyandang cacat serta para pengusaha yang peduli terhadap penyandang cacat.
Panti Sosial Bina Netra Mahatmiya, sebagai salah satu Unit Pelayanan Teknis Departemen Sosial yang membidangi pelayanan sosial dan rehabiltasi terhadap para tuna netra di wilayah Bali, NTB dan NTT pada tanggal 21-26 Nopember 2008 telah melaksanakan kegiatan pelayanan after care bagi penyandang cacat netra di Provinsi Bali. Pelaksanaan kegiatan ini bertempat di Pusat Informasi dan Pelayanan Vokasional Penyandang Cacat (PPIPC), Jalan Srema Mendra No.3 Denpasar.
Pembukaan acara tersebut yang berlangsung pada Jumat 21 November 2008, dihadiri Dinas Sosial Provinsi Bali, Dinas Sosial Kota Denpasar, Ketua Pertuni Bali, UPTD Dinas Sosial Provinsi Bali, Kepala PSBN Mahatmiya dan undangan lainnya.
Kepala PSBN Mahatmiya, Dra, Neneng Ratnaningsih mengatakan “Kegiatan ini merupakan pemantapan, sehingga para tuna netra yang selama ini memberikan pelayanan massage kepada masyarakat bisa lebih profesional, seiring dengan perkembangan zaman, teknik atau ilmu massage yang akan terus berkembang, karena itu para peserta penting diberi pemantapan atau bimbingan agar kualitas pelayanannya meningkat.”
Kepala PSBN Mahatmiya menambahkan ” ini merupakan salah satu program PSBN Mahatmiya untuk memantau sejauhmana perkembangan mantan penerima manfaat kami setelah kembali ke masyarakat, setelah dipantau ternyata mereka memerlukan penyeragaman gerakan manipulasi dalam memijat, dari tahun ke tahun ilmu memijat selalu berkembang, karena itu perlu penyegaran-penyegaran. “
Sasaran kegiatan after care adalah mantan penerima manfaat (klien) PSBN Mahatmiya yang telah bersertifikat dan telah tamat diatas lima tahun. kegiatan ini diikuti oleh 30 orang peserta yaitu 6 orang dari Pertuni Kodya Denpasar, 19 Orang dari Kube Dharmabakthi Denpasar, 2 orang dari kecamatan Kediri Tabanan dan 3 orang dari Pertuni Karangasem serta 3 orang instruktur massage.
Tujuan Kegiatan ini adalah untuk memantapkan gerakan massage khususnya massage sport, menyeragamkan gerakan manipulasi massage sport, mengurangi resiko yang ditimbulkan oleh massage dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat agar lebih profesional dan percaya diri.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali dalam sambutanya yang dibacakan Drs. Made Sudana menyambut baik kegiatan ini, bimbingan ini sangat relevan dengan misi pemerintah untuk meningkatkan SDM penyandang cacat, dengan meningkatnya kualitas massage diharapkan mereka mampu memenangkan persaingan. (Sumber: Balipost)
Panti Sosial Bina Netra Mahatmiya, pada Tanggal 20 Nopember 2008 menerima kunjungan peserta Kerja sama Teknik antar Negara Berkembang yang diselenggarakan oleh Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina daksa(BBRBD) Cibinong, diikuti oleh delegasi dari 8 Negara, yaitu; 2 orang delegasi dari Palestina, 2 orang delegasi Kamboja, 2 orang delegasi Fiji, 2 orang delegasi Nepal, 2 orang delegasi Afrika Selatan, 2 orang delegasi Vietnam, 1 orang delegasi Srilanka dan 3 orang delegasi Bangladesh. Para peserta didampingi oleh 5 orang pendamping dari BBRDB yang dipimpin langsung oleh kepala BBRDB Cibinong H.Eddy Masdi.
Kepala BBRBD H. Eddy Masdi menjelaskan bahwa selain memberikan pelatihan di kelas, para peserta juga melihat langsung pemberdayaaan penyandang cacat di dalam masyarakat, salah satunya adalahj di PSBN Mahatmiya, selain itu rombongan juga akan mengunjungi PT Reddy Print Denpasar, Yayasan Senang hati Tampak Siring, KUBE Sayukti Majalaya Tangeb dan Panti Kasih Jimbaran Badung.Kepala Panti Sosial Bina Netra Mahatmiya, Dra. Neneng Ratnaningsih dalam sambutannya menjelaskan bahwa PSBN Mahatmiya merupakan unit pelaksana teknis Departemen Sosial yang melakukan pelayanan dan rehabilitasi penyandang cacat, dijelaskan pulu tentang kriteria penyandang cacat yang dilayani, aktivitas kegiatan didalam panti (inside institution) maupun diluar panti( home care services), dan menjelaskan tentang fasilitas yang dimiliki panti diantaranya asrama, perpustakaan, studio musik, ruang fitnes, ruang belajar, serta fasilitas jaringan internet dilingkungan PSBN Mahatmiya.
Setelah acara ramah tamah, acara dilanjutkan dengan kunjungan lapangan, para peserta melihat langsung aktifitas dan fasilitas didalam panti serta peragaan hasil karya penerima manfaat yang dipajang distand pameran. Rangkaian kunjungan lapangan ditutup dengan makan siang bersama. (Writte by: Wahyu Dewanto. Posted&editting by. Rusmana)
Penanganan permasalahan sosial tidak hanya dapat dilaksanakan oleh hanya satu pihak atau satu lembaga saja, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama oleh semua pihak dengan pendekatan dan pelayan holistik.
Departemen Sosial RI, pada tanggal 13 sd 16 Oktober 2008, bekerja sama dengan Help Age Internasional (HAI) serta Yayasan Emong Lansia (YEL), menyelenggarakan konferensi kelanjutusiaan regional Asia Pasifik, bertempat di Hotel Jayakarta Kuta Bali, Konferensi yang di buka oleh Bapak Direktur Jendral Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial RI ini dihadiri oleh 21 negara delegasi dikawasan Asia Fasifik.
PSBN Mahatmiya Sebagai Unit Pelaksana Teknis Departemen Sosial di bidang rehabilitasi sosial dalam acara ini diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan pameran pelayanan rehabilitisasi sosial, dengan mengisi stand pameran yang telah disediakan panitia untuk memberikan informasi tentang kegianan pelayanan di panti, stand ini juga memberikan pelayanan pijat refleksi, shiatsu, so tai ho dan sport bagi pengunjung yang memerlukan pijat. Selain itu PSBN Mahatmiya pun berpartisipasi dalam mengisi acara dinner yang diselenggarakan oleh menteri sosial dengan menampilkan kesenian gong dan tarian Panyembrahme sebagai ucapan selamat datang untuk para delegasi. Tarian ini merupakan hasil kolaborasi PSBN Mahatmiya dengan SLB B Tuna Rungu WicaraTabanan, Penabuh gamelan berasal dari PSBN Mahatmiya dan penarinya dari SLB B Tabanan. Hasil kolaborasi ini memiliki keunikan tersendiri karena para penabuh tidak bisa melihat penari dan gamelannya, sementara penari tidak bisa mendengarkan tabuhan gamelannya. Penampilan ini mendapatkan tepuk tangan yang luar biasa dari pengunjung yang sangat terkesan dengan keindahan tarian dan keterbatasan yang dimiliki oleh penabuh dan penarinya.( Ditulis dan di posting oleh I.Rusmana)
Secara harfiah tataboga merupakan kegiatan yang berhubungan dengan cara masak-memasak, cara penyajian, pemahaman tentang kandungan nutrisi/gizi pada setiap makanan, dan di dalamnya juga terdapat unsur seni memasak. Terkadang sering dijumpai jenis masakannya sama dan resep masakannya pun juga sama tetapi hasil masakannya rasanya berbeda, sebab ada istilah yang sering kita dengar “Beda Tangan Beda Rasa”, inilah letak seninya. Kegiatan memasak bagi setiap orang merupakan hal yang wajar. Namun kini siapa menyangka bila ada kegiatan tataboga dapat dikerjakan oleh penerima manfaat di lingkungan PSBN Mahatmiya.
Di PSBN Mahatmiya penerima manfaat dapat memilih jenis keterampilan yang ada, salah satunya adalah keterampilan tataboga. Penerima manfaat yang tuna netra di bimbing oleh instruktur dan pekerja sosial pada mulanya di perkenalkan dengan alat masak/alat-alat dapur, seperti loyang, kompur, pisau, oven, dan lain sebagainya yang semuanya itu harus dirabakan/dikenalkan kepada penerima manfaat yang tuna netra. Pengenalan terhadap bumbu-bumbu dapur atau adonan kue, itu pun harus di rabakan bahkan kalau perlu digunakan indra penciuman, seperti bagaimana cara membedakan antara jahe, kunyit, dan lengkuas, itu semua tidak cukup di rabakan saja tapi juga harus menggunakan indra penciuman. Begitu halnya dengan cara membedakan antara tepung trigu dan tepung beras, ke-duanya harus dirabakan/di perbandingkan.
Dalam kegiatan tataboga ini materi yang diajarkan adalah membuat kue dan makanan yang diambilkan dari resep-resep makanan yang sudah lazim. Sebagai contoh yaitu kue bolu, onde-onde, kacang telor, kripik pisang, nasi kuning, nasi goreng, dan masakan-masakan yang lain. Di sinilah letak keunikan dari masing-masing penerima manfaat dalam proses pembuatannya. Misalnya dalam proses pembuatan karamel, terkadang adonannya/takarannya berlebih atau justru ada yang kurang. Dan begitu halnya dengan proses pengovenan adonan bila tidak diperhatikan waktunya maka yang akan terjadi adalah adonan kue karamelnya menjadi gosong. Dalam kegiatan ini instruktur dan pembimbing harus benar-benar memberikan perhatian lebih kepada penerima manfaat agar disiplin mentaati apa yang telah diajarkan.Baca selanjutnya..