Archive for December, 2009

PASAR MURAH KKB DI PSBN MAHATMIYA DISERBU PEMBELI

Dalam rangka memperingati Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional PSBN Mahatmiya Tabanan menggelar pasar murah pada, Sabtu (19/12) lalu di serbu  pembeli dari masyarakat sekitar, Bukan saja masyarakat Banjar Anyar  Kediri, warga dari Kota Tabanan berbagai desa berjubel untuk berbelanja , selaian itu pasar murah yang digelar di halaman dan aula  PSBN Mahatmiya itu juga diserbu pembeli dari kalangan pelajar.

Berbeda dengan pasar murah lainnya, PSBN Mahatmiya menggelar pasar murah sembako dankebutuhan  sehari-hari bekerja sama dengan Koperasi Krama Bali (KKB) Tabanan, pasar murah pakaian bekerja sama dengan Matahari Departemen Store dan pasar murah buku-buku bekerja sama dengan Gramedia Denpasar. warga berjubel untuk berbelanja pada tiga stand besar yang disediakan panitia.

Barang kebutuhan sehari-hari yang disediakan oleh KKB terus dibanjiri pembeli sejak dibuka  pukul 09.00 wita hingga sore hari. banyak ibu-ibu harus berebutan membeli beras, gula, minyak dan berbagai kebutuhan lainnya karena takut kehabisan. padahal kata manajer KKB Tabanan Dewi Trisnayanti, pihaknya menyediakan dalam jumlah besar, namun karena banyaknya pembeli, kebutuhan pokokm  dan keperluan sehari-hari habis terjual. Dalam setiap pasar murah KKB menyediakan  kebutuhan dengan harga lebih rendah dari harga pasar sehingga membantu masyarakat.

Pasar murah buku dengan diskon yang sangat menarik  juga diserbu para pelajar dan masyarakat umum, demikian pula stan pakaian dan makanan kecil.

Sumber Bali Post, senin 21 Desember 2009

PENYEDIAAN AKSESIBILITAS MERUPAKAN SALAH SATU BENTUK PERLINDUNGAN TERHADAP PENYANDANG CACAT

seminar.JPG

kepala.JPG

peserta.JPG

Judul tersebut merupakan thema seminar Advokasi Sosial dalam rangka memperingati Hari Internasional Penyandang cacat (Hipenca) yang jatuh pada tgl 3 Desember dan Kesetiakawanan Sosial Nasional (KSN) tgl 20 Desember yang dipandu oleh Putu Desy Fitriani salah seorang penyiar dari Bali TV dan peserta seminar terdiri dari pendidik, pengambil kebijakan, dinas teknis terkait dan organisasi sosial kecacatan.

para penyandang cacat sesungguhnya memiliki hak-hak yang sama dengan masyarakat lainnya, Namun sayang, tidak banyak pihak yang menyediakan fasilitas bagi mereka, baik dalam sarana umum, kantor-kantor maupun berbagai tempat lainya, Selain itu masih banyak yang mengalami eksploitasi, demikian terungkap dalam  Seminar Advokasi Sosial di PSBN Mahatmiya, Kamis (17/12).

Kepla PSBN mahatmiya Dra. Neneng Ratnaningsih mengharapkan kesadaran semua pihak untuk  memberikan akses  bagi mereka yang berkebutuhan khusus, Dikatakannya, para penyandang cacat dapat hidup normal dan embantu dirinya sendiri dengan kepedulian banyak pihak, baik masyarakat luas, pemerintah maupu pihak swasta.

Hadir sebagai narasumber Sekretaris DPRD Tabanan I Wayan Miarsana yang mengakui minimnya  akses untuk penyandang cacat di Tabanan, berjanji pihaknya akan terus mendorong agar pemda dan masyarakat luas lebih banyak memberikan perhatian bagi para penyandang cacat, misalnya dari segi pendanaan.

Ketua Komisi Perlindungan Anak daerah bali (KPAID) dr.AA Sri Wahyuni, Sp.Kj. Mengatakan masih banyak terjadi  eksploitasi anak-anak, baik penyandang cacat maupun normal. Dilapangan, kata dr. Sri Wahyuni, banyak ditemukan kasus anak cacat yang sengaja diterlantarkan orang tuanya atau badan yang menghimpun dana dengan menggunakan anak cacat sebagai komoditas. Dikatakannya, para penyandang cacat tidak harus diberi bantuan, tetapi perlu mendapatkan pendidikan yang layak untuk punya masa depan yang baik.”Diperlukan akses untuk mendapatkan pendidikan secara layak bagi tuna daksa, tuna rungu maupun bagi mereka yang berkebutuhan khusus lainnya.

Anak penyandang cacat, katanya, harus memperoleh perlakuan yang sama dengan anak lainnya, Demikian pula pentingnya memberikan kasih sayang, didengar pendapatnya dan tidak dilakukan liberalisasi sehingga kepercayaan dirinya tumbuh.

Kepala Bidang Pembangunan dan Gedung  PU Kabupaten Tabanan   I Made Yudiana mengatakan sesuai dengan aturan, semestinya pembangunan gedung-gedung harus menyediakan akses yang dapat digunakan oleh penyandang cacat, seperti bangunan gedung pendidikan, fungsi keagamaan atau fasilitas umum lainnya, Dikatakannya akses itu masih sangat minim  dan diabaikanpada ketika melakukan pembangunan.

Sementara itu sejumlah penyandang cacat pada kesempatan  itu meminta agar diberikan kemudahan melakukan mobilitas. Banner maupunbaliho yang ada di trotoar kerap menyulitkan langkah mereka. Mereka juga mempertanyakan  Jamkesmas yang tidak dimiliki padahal penghasilan mereka sangat minim.

Sumber: Bali Post, Sabtu 19 Desember 2009.