KETERAMPILAN TATABOGA

            Secara harfiah tataboga merupakan kegiatan yang berhubungan dengan cara masak-memasak, cara penyajian, pemahaman tentang kandungan nutrisi/gizi pada setiap makanan, dan di dalamnya juga terdapat unsur seni memasak. Terkadang sering dijumpai jenis masakannya sama dan resep masakannya pun juga sama tetapi hasil masakannya rasanya berbeda, sebab ada istilah yang sering kita dengar “Beda Tangan Beda Rasa”, inilah letak seninya. Kegiatan memasak bagi setiap orang merupakan hal yang wajar. Namun kini siapa menyangka bila ada kegiatan tataboga dapat dikerjakan oleh penerima manfaat di lingkungan PSBN Mahatmiya.

 

            Di PSBN Mahatmiya penerima manfaat dapat memilih jenis keterampilan yang ada, salah satunya adalah keterampilan tataboga. Penerima manfaat yang tuna netra di bimbing oleh instruktur dan pekerja sosial pada mulanya di perkenalkan dengan alat masak/alat-alat dapur, seperti loyang, kompur, pisau, oven, dan lain sebagainya yang semuanya itu harus dirabakan/dikenalkan kepada penerima manfaat yang tuna netra. Pengenalan terhadap bumbu-bumbu dapur atau adonan kue, itu pun harus di rabakan bahkan kalau perlu digunakan indra penciuman, seperti bagaimana cara membedakan antara jahe, kunyit, dan lengkuas, itu semua tidak cukup di rabakan saja tapi juga harus menggunakan indra penciuman. Begitu halnya dengan cara membedakan antara tepung trigu dan tepung beras, ke-duanya harus dirabakan/di perbandingkan.

 

            Dalam kegiatan tataboga ini materi yang diajarkan adalah membuat kue dan makanan yang diambilkan dari resep-resep makanan yang sudah lazim. Sebagai contoh yaitu kue bolu, onde-onde, kacang telor, kripik pisang, nasi kuning, nasi goreng, dan masakan-masakan yang lain. Di sinilah letak keunikan dari masing-masing penerima manfaat dalam proses pembuatannya. Misalnya dalam proses pembuatan karamel, terkadang adonannya/takarannya berlebih atau justru ada yang kurang. Dan begitu halnya dengan proses pengovenan adonan bila tidak diperhatikan waktunya maka yang akan terjadi adalah adonan kue karamelnya menjadi gosong. Dalam kegiatan ini instruktur dan pembimbing harus benar-benar memberikan perhatian lebih kepada penerima manfaat agar disiplin mentaati apa yang telah diajarkan.

 

            Dengan memberi bekal keterampilan tataboga, diharapkan penerima manfaat dapat melatih dirinya sendiri untuk memenuhi kebutuhan sendiri, kususnya bisa menguasai ilmu masak-memasak. Bila di dalam dirinya ada bakat masak-memasak, mungkin juga nantinya ada seorang tunanetra yang ahli memasak. Semoga

 

(Ditulis oleh A.Rudhy Setiawan, diposting oleh I. Rusmana)

 

Leave a Reply